Kegiatan teleconference semula juga akan dilakukan bersama dengan SMA Tangerang Selatan. Namun, SMA Tangerang Selatan belum siap untuk bergabung. Teleconference dilaksanakan pada hari Jumat siang pukul 13.00 WIB atau pukul 1 waktu EST, Amerika Serikat (AS). Kami sepakat untuk berdiskusi tentang tanggap bencana di sekolah.Selain itu, pembicara mengenalkan jenis-jenis bencana yang sekiranya terjadi di sekolah. Untuk itu diperlukan persiapan yang meliputi persiapan peralatan serta rencana evakuasi dan tanggap bencana seacara keseluruhan. Komunikasi menjadi hal yang penting dalam tanggap bencana. Bahasa yang digunakan harus singkat dan jelas serta tidak menimbulkan interpretasi yang berbeda di orang tua siswa, siswa, dan guru. Tanggap bencana juga tidak terlepas dari sinkronisasi dengan kebijakan dan perundang-undangan yang dibuat oleh lembaga terkait. Lembaga ini meliputi Departemen Pendidikan Nasional, SAR, Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Kepolisian dlsb. Kegiatan tanggap bencana juga harus memperhatikan akuntabilitas dalam hal pendataan sumber daya manusia dan barang serta kinerja seluruh personil dalam sistem tanggap bencana.
Pembicara juga memberikan kabar tentang adanya sekolah tanggap bencana di berbagai daerah misalnya di Bengkulu dan Aceh. Pemerintah membangun gedung sekolah yang disiapkan untuk menghadapi bencana seperti gempa bumi. Selain itu, siswa dan guru telah melakukan simulasi bencana sehingga diharapkan siswa dan guru telah siap sewaktu-waktu terjadi bencana. Terakhir, pembicara menceritakan dengan singkat pengalaman menjadi sukarelawan Tanggap Bencana di AS yang disebut Community Emergency Response Team (CERT).
![]() |
![]() |
Setelah presentasi, guru dan siswa memberikan beberapa pertanyaan di antaranya :
T : Bencana terburuk apa yang pernah dialami oleh pembicara selama menjadi relawan tanggap bencana?
J : Selama menjadi sukarelawan tanggap bencana di AS, pembicara beberapa kali mendapat panggilan diaktifkan untuk membantu proses tanggap bencana. Bencana yang dialami bisa bermacam bentuknya dan beragam tingkatannya. Bencana kecil seperti kebocoran gas sampai bencana badai salju. Namun, pembicara hanya sempat aktif membantu pada tanggap bencana badai Irene dan badai salju Alfred. Badai Irene terjadi pada akhir Agustus 2011 dan badai salju Alfred terjadi pada akhir Oktober 2011. Kedua badai tersebut menimbulkan kerusakan jaringan listrik yang parah di negara bagian Connecticut. Khusus untuk badai salju Alfred, dampaknya lebih besar karena terjadi pada saat suhu udara semakin dingin sehingga banyak warga yang membutuhkan penghangat ruangan sedangkan penghangat ruangan membutuhkan tenaga listrik.
T : Apa yang perlu dipersiapkan untuk menghadapi bencana?
J : Untuk persiapan individu, persiapan ini lebih kepada kesehatan. Misalnya setiap orang wajib menyiapkan obat-obatan pribadi. Untuk persiapan secara komunitas, perlu adanya tandu dan alat-alat kesehatan lainnya di klinik sekolah. Sekolah juga perlu menyediakan senter beserta batereinya. Pembicara menunjukkan peralatan yang dibekalkan ke sukarelawan. Peralatan tersebut meliputi hammer multifungsi, solatip/lakban, jaket, sarung tangan tebal, helm, senter dan baterei, tas, nametag, first aid kit, dan makanan ringan seperti cereal. Makanan ringan ini sangat membantu dalam keadaan bencana karena kita akan mebutuhkan makanan yang siap santap tanpa membutuhkan bahan bakar dan air bersih.
T : Bagaimana persiapan pihak sekolah dalam tanggap bencana khususnya untuk sekolah yang mempunyai gedung bertingkat?
J : Aturan dasarnya bila gedung bertingkat dan mempunyai lift yaitu kita diwajibkan untuk menggunakan tangga dan menghindari lift. Untuk persiapan evakuasi dibutuhkan kegiatan simulasi bencana yang rutin. Sehingga dapat diketahui jalur mana yang efektif untuk evakuasi. Jalur ini memperhitungkan struktur bangunan, denah bangunan, sebaran siswa, dll.
T : Seberapa cepat pemerintah memberikan respon terhadap bencana dan memberikan bantuan alat berat dan paoskan listrik?
J : Cepat tidaknya respon pemerintah bergantung pada jenis bencana. Bencana yang susah diprediksi (gempa bumi) tentunya respon pemerintah lebih lambat daripada respon untuk bencana yang bisa diprediksi, misalnya bencana meteorologi. Hal ini tingkat akurasi prediksi fenomena meteorologi sudah cukup bagus. Untuk bencana badai salju kemaren yang terjadi pada hari Sabtu malam menjelang Minggu, pada Minggu siangnya tempat pengungsian sudah siap diaktifkan. Garda nasional yang terdiri atas beberapa satuan tentara AS sudah diaktifkan pada hari senin untuk membantu petugas dari Office of Emergency Management. Gubernur negara bagian pun langsung membuat langkah-langkah tanggap bencana. Tindakan akan menjadi lebih efektif bila mengikuti kaidah dan struktur tanggap bencana yang telah pembicara paparkan di presentasi. Jadi kesimpulannya, cepat tidaknya respon bergantung pada kesiapan pemerintah daerah, kesiapan kantor manajemen bencana, dan jenis bencana.
T : Bagaimana mengatasi bahaya api?
J : Kaidah pertama dalam menangani bahaya api adalah siapkah kita untuk menaklukkan api. Kalau apinya masih kecil, kita masih yakin untuk menjinakkannya. Ada api yang bisa dipadamkan dengan air dan ada yang harus dipadamkan dengan alat pemadam khusus. Kalau ada asap yang tebal, cepat merunduk ke lantai. Dan bila hendak berpindah ruangan, pastikan bahwa ruangan tersebut aman. Salah satu caranya, sentuh gagang pintu ruangan tersebut. Apabila merasa panas, ruangan tersebut sudah dimakan api. Ada juga kasus kematian anggota Pemadam Kebakaran di Connecticut karena tekanan udara yang mendadak. Tekanan udara ini akibat akumulasi tekanan udara oleh asap tebal di ruangan. Nah, anggota tersebut memecah kaca yang berakibat keluarnya udara tiba-tiba dari dalam ruangan yang menyebabkan anggota tersebut terlempar dan terhembus udara panas.
T : Bagaimana dengan sosialiasi tentang bencana kepada siswa?
J : Hal ini salah satu tugas perangkat sekolah meliputi guru dan kepala sekolah untuk menghimpun informasi tentang bencana dan tanggap bencana. Guru dapat memasukkan informasi tersebut dalam proses belajar di kelas sehingga siswa tidak hanya mendapat pelajaran dari buku namun juga mendapat tambahan informasi yang bermanfaat yang telah dihimpun oleh guru.
Terimakasih atas kerjasama semua pihak atas terlaksananya teleconference ini. Semoga hasil diskusi dapat bermanfaat untuk penanggulangan bencana di Indonesia yang berada di daerah rawan bencana.
*artikel ini juga dimuat di sini http://www.smuha-yog.sch.id/?pujek=news&aksi=lihat&id=290




