Logo1000Guru
line decor
  - Best viewed in Firefox
line decor




TENTANG KAMI
PERKULIAHAN


mail to:
web-admin
 
 
 
 
 
 

Logo

 

Siapakah 1000Guru?

Gerakan 1000guru adalah sebuah lembaga swadaya masyarakat yang bersifat non-profit, non-partisan, independen, dan terbuka. Spirit dari lembaga ini adalah “gerakan” atau “tindakan” bahwa semua orang bisa menjadi guru dan berkontribusi untuk meningkatkan level pendidikan di Indonesia.
Gerakan 1000guru ingin menjawab salah satu permasalahan mendasar dari pendidikan dasar-menengah di Indonesia yaitu "kekurangan guru", baik dari sisi kuantitias, kualitas, maupun penyebaran, dengan memanfaatkan kelimpahan sumber daya manusia yang tersebar di bidang-bidang non-pendidikan dasar-menengah dan yang tersebar di seluruh penjuru planet.
Gerakan 1000guru juga ingin menyambung kembali tali ikatan kultural antara dunia pendidikan dan masyarakat, seperti di masa lalu ketika pendidikan masih berlangsung di lingkup keluarga. Pendidikan adalah satu-satunya aset yang tidak dimiliki oleh makhluk selain manusia, yang sudah terbukti dan akan terus menjadi motor yang memperpanjang nyawa peradaban manusia. Oleh karena itu, pendidikan adalah tanggung jawab seluruh elemen masyarakat.

  Tanggapan atas artikel: What I've learned from Australia      
 

Saya hanyalah satu dari jutaan anak Indonesia yang menikmati hasil dari pendidikan di Indonesia sejak Taman Kanak-kanak, Sekolah Dasar, Sekolah Menengah hingga Perguruan Tinggi. Yang saya rasakan dulu, pergi ke sekolah berarti bertemu dengan teman, bermain, jajan, bercerita dan diwaktu bel berbunyi adalah saatnya mendengarkan guru berbicara. Pada masa itu (1976-1989) hampir semua buku pelajaran dipinjam dari sekolah. Ibu saya selalu menyimpan buku yang beliau beli untuk kakak tertua yang 6 tahun lebih tua dari saya. Buku-buku yang sama kemudian dipakai pula oleh 2 adik saya.

Setiap hari dimulai dengan membaca doa dan memberi salam kepada guru dan gurupun membalas dengan salam. Nuansa ini terasa sangat membumi dan sesuai dengan budaya kita. Dalam budaya kita, anak berkewajiban untuk menghormati orang tua dan orang tua berkewajiban untuk merawat dan mendidik anak. Sedangkan posisi guru di sekolah adalah orang yang diamanahi oleh orangtua untuk mendidik anak mereka.

Dari hasil pendidikan seperti itulah saya menyelesaikan sekolah doktor. Tidak hanya saya seorang, tapi ribuan atau jutaan mahasiswa Indonesia lain bermodal pendidikan yang sama. Di kota tempat saya menuntut ilmu saja, puluhan mahasiswa Indonesia berhasil menyelesaikan sekolahnya. Tidak hanya sekedar lulus, tetapi lulus dengan sangat baik menandingi mahasiswa lain, dan bidangnya pun menurut saya bukan bidang yang 'main-main'. Jauh dari sikap pasrah dan rendah diri. Bule lebih banyak yang bodonya daripada yang pinternya. Jangan silau dengan warna kulit.

Kami adalah orang-orang tidak tersentuh kurikulum berbasis kompetensi ataupun bertaraf internasional yang entah diadopsi dari mana. Yang pasti kurikulum di era tahun 70-an telah terbukti menghasilkan lulusan yang berkualitas tinggi dan mampu bersaing di dunia internasional.

Sebagai gambaran, sekolah di Jerman tidak dipungut bayaran alias gratis. Di beberapa negara bagian, diterapkan uang kuliah yang besarnya tidak lebih dari biaya makan perbulan. Dengan kondisi ini, mutu pendidikan terkontrol karena perguruan tinggi tidak punya alasan untuk menahan atau meluluskan mahasiswa untuk alasan uang. Sebagai gambaran, seorang mahasiswa hanya diberi kesempatan 2 kali ujian. Bila ujian ke-2 gagal, tidak perduli berapa banyak sks yang telah dikumpulkan, dia dinyatakan drop out.

Pendidikan adalah investasi jangka panjang. Harus direncanakan dengan matang dan dijalankan secara terus menerus. Kurikulum haruslah terencana dan tertata dengan rapi dan harus sesuai dengan budaya Indonesia. Dengan menerapkan kurikulum yang tidak sesuai dengan budaya bangsa, berarti kita merencanakan kehancuran bangsa kita sendiri. Tunggulah 10-20 tahun kedepan, tidak ada lagi bangsa Indonesia yang berintegritas.

Modal pendidikan dari Indonesia sangat cukup untuk memulai persaingan di luar negeri. Tinggallah pilihan di tangan kita sendiri:

  • Menunduk dengan rendah diri atau
  • Berdiri dengan kepala tegak, menunjukkan kemampuan diri dan kualitas bangsa.

 

 

Dikirim oleh
Dina R Widarda
Lehrstuhl für Dynamik der Tragwerke
Fakültät Bauingenieurwesen
TU Dresden - Germany