![]() |
||||||||
- Best viewed in Firefox
|
||||||||
TENTANG KAMI
PERKULIAHAN
|
||||||||
Siapakah 1000Guru? Gerakan 1000guru adalah sebuah lembaga swadaya masyarakat yang bersifat non-profit, non-partisan, independen, dan terbuka. Spirit dari lembaga ini adalah “gerakan” atau “tindakan” bahwa semua orang bisa menjadi guru dan berkontribusi untuk meningkatkan level pendidikan di Indonesia. |
||||||||
|
Mengapa Kimia Serasa Sulit? |
||||||||
|
Berawal dari keinginan saya supaya mahasiswa saya tidak ketiduran pas ikut kuliah saya, maka saya coba hunting artikel2 panjebar semangat untuk mengajar kimia. Note ini saya peruntukkan buat teman2, mantan mahasiswa saya atau siapapun yang kini bergerak di bidang pendidikan sains terutama kimia. Dari survey iseng saya di FB (yang memang boleh diragukan validitasnya :p), saya mendapat kesan bahwa kimia masih menjadi salah satu mata pelajaran membosankan, tidak menyenangkan, maupun menyulitkan :D. Nah, iseng2 saya searching artikel untuk menelaah, mengapa kimia terasa sulit atau membosankan. Harus diakui sebenarnya kimia adalah sebuah ilmu yang sangat penting dalam kehidupan kita. Ilmu2 turunan kimia seperti teknik kimia, kedokteran, farmasi, gizi, bioteknologi, pengolahan pangan dan masih banyak yang lain banyak bergantung kepada konsep2 dasar ilmu kimia. Lalu mengapa kimia murni sendiri serasa tidak menyenangkan untuk dipelajari? Sebuah artikel yang ditulis oleh Sylvia A. Ware* menelaah bahwa pengajaran kimia seharusnyalah menggunakan perspektif sosial. Apa maksudnya? Bahwa kimia semestinya disesuaikan dengan konteks masyarakat sehingga baik para kimiawan, non-kimiawan sampe ke pengambil keputusan bisa saling bekerjasama untuk menangani masalah2 yang berkaitan dengan ilmu kimia. Dengan demikian maka manfaat pembelajaran kimia bisa merambah sampai ke masyarakat dan lingkungan dan tidak berhenti kepada para pelajar saja. Saya yakin wacana di atas sudah banyak disepakati oleh berbagai pihak. Namun pada kenyataannya mengapa kimia seakan tetap tak bisa banyak bicara di kehidupan masyarakat? Kembali ke pemaparan Sylvia, beliau menyatakan bahwa untuk mencapai kondisi ideal itu, pengajaran kimia harus melalui tiga tahapan, yaitu :
Kegagalan meramu informasi sampai bisa melewati tiga tahap tersebut di atas akan membuat pembelajaran suatu konsep kimia menjadi timpang. Seorang pelajar mungkin akan terfokus pada tahap ketiga saja dan melewatkan tahap 1 dan 2 sehingga ia hanya mendapati persamaan matematis maupun simbol2 yang sulit dipahami. Pelajar akan kehilangan gambaran besar fenomena apa yang sedang dia pelajari. Pun kegagalan memahami tahap ketiga akan menjadikan seorang pelajar tumpul dalam menganalisa lebih detail dan lebih tajam akan suatu fenomena. Tanpa melewati tahap ketiga, seorang saintis akan kehilangan presisi dan keakurasiannya dalam memahami sebuah fenomena. Nah, perjalanan atau transisi ketiga tahap inilah yang menjadikan pembelajaran kimia penuh tantangan. Kegagalan seorang pendidik menghubungkan benang merah ketiga tahap ini bisa menjadikan anak didik kehilangan alur logika sebuah fenomena besar yang dipecah-pecah ke abstraksi detail. Di sinilah kimia terasa sulit dan membosankan. Karena seorang anak didik tak lagi melihat alur logika maupun aplikasi riil konsep kimia. Saya menemukan sebuah pendapat seorang guru kimia yang menarik. Old Science Guy** menyatakan bahwa belajar kimia layaknya belajar sebuah bahasa asing. Dunia kimia mempunyai kosa kata sendiri yang memang harus dipahami, dihafalkan dan dipakai dalam komunikasi kimia. Sekali kita bisa berbicara bahasa kimia, maka buku2 kimia akan terasa mudah untuk dipelajari. Di sinilah perlunya anak didik maupun guru untuk memahamkan bahasa yang akan dipakai dalam komunikasi kimia. Sedangkan seorang guru kimia lainnya, Trevor H***, menyatakan bahwa alur logikalah kunci dapat tidaknya anak didik menikmati kimia. Jika alur logika jelas, simpel dan saling berurutan secara sistematis, maka anak didik akan mudah menerima konsep kimia.
di sini logika bicara, bahwa bunuh diri dengan nitrogen gun hanyalah untuk menipu...:p
Mungkin saja guru atau dosen adalah seseorang yang memahami banyak konsep bahkan sampai detail. Tetapi kegagalan metoda tranfer ilmu ini menyebabkan pembelajaran oleh seorang guru atau dosen seolah2 tak berbicara apa-apa. Teringat lagi kata seorang bijak nun jauh di sana "guru yang pintar adalah yang bisa membuat konsep yang sulit menjadi mudah dipahami dengan bahasa yang sederhana" Mungkin ini tantangan bagi kita semua, bagaimana merumuskan strategi pembelajaran yang mampu merangkul benang merah ketiga tahap di atas dengan alur logika jelas, simpel dan sistematis. Malang, 1 September 2010 * Ware, Sylvia A. Teaching chemistry from a societal perspective, 2001, Pure Appl. Chem., Vol. 73, No. 7, pp. 1209–1214 Dikirim oleh
| ||||||||