|
Banyak jalan menuju Roma. Banyak cara siswa belajar menuju sukses studi di masa depan. Yang lazim, untuk siswa SMA, adalah melalui praktik-praktikum yang terstruktur selain pembelajaran teori; dan melalui quantum learning, belajar menyenangkan atau fun, karena guru serta suasana yang hangat-cair tapi hasilnya kental! Teleconference adalah (juga) jenis pembelajaran yang, menurut penulis, efektif. Juga mencerahkan
Teleconference merupakan cara belajar baru yang dapat membuka wawasan siswa dengan lebih luas. Tidak hanya secara akademik, namun belajar secara keseluruhan, termasuk belajar hidup itu sendiri. Yang saya coba jelaskan di sini adalah pada umumnya pelajar di Indonesia berhenti pada kenyataan bahwa apa yang mereka lakukan di sekolah adalah muara dari seluruh pembelajaran mereka. Pelajar umumnya hanya belajar, belajar, dan belajar untuk mengikuti UAN, masuk PTN favorit; tanpa mempedulikan apa sesungguhnya makna atau hakikat belajar itu sendiri. Ini dikarenakan pembelajaran di Indonesia umumnya masih sangat jauh dari praktiknya.
Dengan kegiatan teleconference, siswa dapat diingatkan kembali bahwa belajar tidaklah semata-mata untuk lulus UAN atau masuk PTN favorit. Belajar adalah sebuah proses seumur hidup yang, apabila didalami, dapat menimbulkan banyak efek mengagumkan; seperti yang telah mereka lihat pada para guru Indonesia yang telah sukses di luar negeri.
Dari beberapa kali teleconference yang saya ikuti, materi-materi pembelajaran melalui teleconference sangatlah menarik. Misal untuk pembelajaran Kimia. Siswa tidak hanya melihat ulang rumus-rumus atau hafalan yang pernah dilihatnya di kelas, melainkan melihat Kimia itu benar-benar diterapkan dalam kehidupan. Tentu saja di sekolah ada praktik, ilustrasi pelajaran, dan lain-lain—namun itu tidaklah cukup untuk pelajaran Indonesia yang begitu banyak jumlah dan penerapan begitu sedikit. Dengan mengikuti teleconference, dan melihat bagaimana ilmu yang mereka peroleh di kelas sedikit banyak diaplikasikan di kehidupan nyata, akan membangun semangat siswa untuk belajar “lebih”. Yaitu “lebih serius”, sebenar-benarnya dan memahami sepenuhnya bahwa ilmu yang dipelajarinya saat ini tidaklah (akan) sia-sia! Itu pertama.
Kedua, teleconference murah. Adalah fakta bahwa presentase pelajar Indonesia yang pergi ke luar negeri masih sangat sedikit dibandingkan pelajar yang menetap di Indonesia dan kuliah di sana. Padahal, dapat kita lihat dengan jelas, bahwa begitu kita berada di luar negeri, kesempatan kita untuk belajar dan belajar lagi jauh lebih banyak daripada yang dapat kita peroleh di Indonesia. Kita lihat perbandingan biaya. Dengan budget yang sama, para pelajar yang melanjutkan sekolah di luar negeri menerima lebih banyak pengalaman dan pembelajaran yang mutakhir dibandingkan para pelajar yang hanya melanjutkan sekolah di dalam negeri (saja). Melalui teleconference yang relatif murah, budget bisa tidak menjadi masalah serius. Artinya, makin banyak siswa yang dapat ‘ditulari’ pengetahuan luar negeri yang beragam dan maju.
Ketiga, menambah rasa percaya diri. Banyak rumor yang mengatakan bahwa kuliah di luar negeri membutuhkan lebih banyak uang dan perjuangan. Fakta tersebut tidak dapat dikatakan salah. Namun juga tidak begitu benar. Selain adanya beasiswa, apa yang dilakukan para pelajar dengan melanjutkan sekolah di luar negeri memberikan lebih banyak manfaat terutama dalam jangka panjang dibandingkan di dalam negeri. Dengan adanya teleconference, mereka dapat melihat bahwa mereka pun mampu-- bahkan sangat mampu-- untuk melanjutkan sekolah ke luar negeri. Yang perlu mereka kikis-hilangkan adalah keragu-raguan untuk memutuskannya—terutama karena adanya banyak halangan seperti keraguan karena bahasa dan budaya, dan (ini yang klasik!) masalah financial. Menurut pendapat saya, ini semua kiranya dapat dikurangi bahkan dihilangkan sama sekali dengan teleconference ini. Karena mereka, para siswa itu, dapat berhadapan langsung dengan orang-orang yang telah berhasil melakukannya.
Keempat, mempersiapkan diri sedini mungkin ke bangku kuliah perguruan tinggi. Fenomena lain yang umum kita temui adalah banyak siswa SMA yang ragu-ragu dengan masa depannya. Seperti mereka akan mengambil jurusan apa ketika masuk kuliah nanti. Biasanya mereka tidak menyadari apa sesungguhnya minat mereka karena kebanyakan dari mereka sudah tersita habis otaknya untuk melahap semua pelajaran yang dihidangkan guru di sekolah -- agar lulus UAN terlebih dahulu. Karena tanpa syarat lulus, siswa tidak mampu melanjutkan kuliah. Ini amat disayangkan. Mengapa? Karena kuliah jauh lebih substansial daripada sekolah yang tidak memfokuskan diri pada membangun potensi diri siswa sepenuhnya. Dengan mengikuti teleconference, yang pesertanya beragam dari mancanegara, khususnya negara maju, kemungkinan besar siswa akan menemukan minatnya dan mulai menekuni apa yang dia minati dengan serius.
Kelima, melihat secara langsung contoh melalui “model”. Secara langsung maupun tidak langsung, dengan mengikuti teleconference yang bersifat interaktif, siswa akan bertemu secara kasat mata (live) dengan sosok pelajar atau mahasiswa universitas terkemuka --yang sudah memilih jurusannya dan menerima gambaran tentang kuliah, pengaplikasian ilmu, dan lain sebagainya yang umumnya tidak mampu dijelaskan secara gamblang oleh sekolah. Hal ini akan berdampak secara psikologis. Yakni siswa akan mampu melawan rasa bingung dan tidak yakinnya—karena tidak adanya sosok figure yang dapat mereka jadikan contoh “model” untuk masa depan mereka di dunia perkuliahan.
Ditulis oleh:
|