Logo1000Guru
line decor
  - Best viewed in Firefox
line decor




TENTANG KAMI
PERKULIAHAN


mail to:
web-admin
 
 
 
 
 
 

Logo

 

Siapakah 1000Guru?

Gerakan 1000guru adalah sebuah lembaga swadaya masyarakat yang bersifat non-profit, non-partisan, independen, dan terbuka. Spirit dari lembaga ini adalah “gerakan” atau “tindakan” bahwa semua orang bisa menjadi guru dan berkontribusi untuk meningkatkan level pendidikan di Indonesia.
Gerakan 1000guru ingin menjawab salah satu permasalahan mendasar dari pendidikan dasar-menengah di Indonesia yaitu "kekurangan guru", baik dari sisi kuantitias, kualitas, maupun penyebaran, dengan memanfaatkan kelimpahan sumber daya manusia yang tersebar di bidang-bidang non-pendidikan dasar-menengah dan yang tersebar di seluruh penjuru planet.
Gerakan 1000guru juga ingin menyambung kembali tali ikatan kultural antara dunia pendidikan dan masyarakat, seperti di masa lalu ketika pendidikan masih berlangsung di lingkup keluarga. Pendidikan adalah satu-satunya aset yang tidak dimiliki oleh makhluk selain manusia, yang sudah terbukti dan akan terus menjadi motor yang memperpanjang nyawa peradaban manusia. Oleh karena itu, pendidikan adalah tanggung jawab seluruh elemen masyarakat.

 

Telekonferensi SMU 12 Semarang dengan 1000guru Live dari Fukuoka, Jepang

     
 

Telekonferensi, Sabtu 31 Juli 2010

Secara pribadi, saya sampaikan terima kasih yang tak terhingga untuk kerja sama ini, untuk 1000 guru, Mas Agung, Mas Imron, Mas Sugeng dan rekan-rekan semua yang secara langsung dan tidak langsung mendukung, untuk SMAN 12, Pak Budi, Pak Agus, Ibu Kepala Sekolah, dan siswa/i, serta untuk mahasiswa saya yang bersedia melibatkan diri dalam kegiatan ini, Mbak Dian dan Mbak Yaroh . Semoga kesempatan demi kesempatan berikutnya semakin memantapkan proses belajar dari masing-masing pihak.

Perkenankan saya membagi cerita telekonferensi perdana di SMAN 12 Gunungpati, Semarang. Ini adalah satu-satunya SMA Negeri di kecamatan Gunungpati, kecamatan hasil pemekaran di wilayah kodya Semarang sekitar tahun 1990-an. Lokasinya termasuk pinggiran, sehingga persoalan akses masih berkriteria lumayan.

Sabtu pagi menjelang pukul 9, kontak dengan Mas Sugeng di Fukuoka tersambung dari ruang lab komputer SMAN 12 Gunungpati, Semarang. Jaringan, suara, dan tampilan di layar diuji semua oleh Pak Budi. Tidak ada masalah. Anak-anak mulai masuk ke lab, dengan melepaskan sepatu mereka. Ternyata, satu kelas yang masuk pada pukul 8.30 bukan kelas sasaran telekonferensi. Menurut Pak Budi, kelas ini akan mengikuti pelajaran selama satu jam.

Persiapan dari saya adalah menyusun rencana pra dan pasca-penyampaian materi lewat telekonferensi. Dalam pra-telekonferensi, tentunya saya harus mengenalkan diri, termasuk mahasiswa yang mendampingi di kelas dan 1000 Guru. Untuk pasca-telekonferensi, kami meminta kelas untuk menuliskan tanggapan mereka. Tulisannya cukup satu halaman saja, dan sekaligus meminta mereka mengirimkannya melalui email. Kami berencana akan membuat satu blog untuk menampung tulisan yang berhubungan dengan kegiatan telekonferensi di SMAN 12 Gunungpati.

Menjelang pukul 9.30, persiapan dimulai lagi. Tampilan situs 1000guru dan profil mas Sugeng disiapkan, alamat email saya juga siap ditampilkan, hubungan ke Fukuoka disambung lagi, dan daftar hadir kelas siap diedarkan. Pak Budi mencoba menghubungi beberapa guru untuk ikut bergabung, guru-guru yang sedang tidak ada jam pelajaran. Ada 2 bapak dan seorang ibu guru yang sempat mengikuti telekonferensi ini, meski tidak sampai selesai. Kebanyakan guru sedang ikut mendampingi perkemahan di Boyolali yang diikuti seluruh siswa baru.

Kelas dibuka dengan perkenalan dari saya, memperkenalkan Dian mahasiswa yang mendampingi saya, dan tentunya memperkenalkan 1000 guru. Tidak lupa saya sampaikan, kelas ini masih kelasnya Pak Budi dengan materi powerpoin. Hanya saja, akan ada tambahan tentang powerpoin dari guru lain yang berada di Jepang. Profil mas Sugeng ditampilkan di layar, kami membaca bersama dengan pancingan pertanyaan-pertanyaan dari saya seputar siapa, di mana, apa. Nah, urusan pertanyaan mengapa dan bagaimana saya minta mereka untuk mengetahui bersama pada saat presentasi dari Mas Sugeng.

Acara selanjutnya saya serahkan ke Pak Budi, yang mengantarkan kegiatan telekonferensi dan mempersilahkan Mas Sugeng untuk menyapa kelas. Telekonferensi dimulai, sekitar pukul 9.35. Saya bisa melihat mimik wajah anak-anak ketika melihat sosok mas Sugeng yang sebenarnya dibandingkan foto yang mereka saksikan dalam tampilan profil dari situs 1000guru tadi.

Mas Sugeng menyampaikan tidak hanya materi tentang powerpoin tetapi juga sekilas tentang dirinya, kegiatan bersama teman-teman di Jepang, gambaran tentang Fukuoaka, termasuk kampus Kyushu. Materi awal disuguhkan sedemikian rupa yang cukup membantu membuka wawasan kelas mengenal letak peta. Kalau menurut mas Sugeng orang Jepang perlu mengetahui letak Indonesia, di kelas pun demikian. Ada ekspresi yang tersirat dari gerak tubuh mereka bahwa mereka jadi mengenal letak kedua negara ini di peta dunia yang ditampilkan, dan menyadari di mana mereka berada kini.

Materi disampaikan dengan tuturan yang lancar dan menarik. Hanya saja, ada satu-dua istilah serapan (berbahasa Inggris) yang masih baru bagi para siswa/i di kelas, yang cukup kerap dilontarkan saat presentasi, seperti riset atau research interest. Istilah ini sama sekali bukan istilah baru sebenarnya buat kalangan pendidik dan mahasiswa, tetapi saya bisa merasakan istilah ini masih dianggap baru di kelas II IPS2 ini. Jadi, saya membantu mereka memahami mereka apa yang dimaksud research interest dengan penjelasan singkat yang bersifat spontan. Barangkali, menurut saya sebelum kita telanjur melontarkan suatu istilah (umum) yang sebenarnya merupakan bagian dari kebiasaan sehari-hari kita tetapi belum tentu menjadi bagian dari kebiasaan di sini, ada baiknya diperkenalkan terlebih dahulu. Menurut saya, ini akan semakin mendekatkan jarak antara penutur dan mitra-tuturnya dan mencapai pesan yang ingin disampaikan dalam berkomunikasi.

Bagaimana pesan dapat tersampaikan juga berhubungan dengan persiapan mengatur ruangan. Ada beberapa hal lagi yang perlu kami perbaiki ketika menggunakan ruangan di lab komputer agar para siswa/i menjadi konsentrasi mengikuti presentasi, seperti tidak mengaktifkan setiap layar komputer di setiap bangku, mengatur posisi kursi menghadap ke dinding yang menjadi layar, menggunakan pengeras suara yang memadai, dan beberapa kontak belajar lainnya.

Terkait dengan materi, saya sengaja meminta Pak Budi untuk berbagi silabus atau rencana pembelajaran dari pelajaran TIK untuk kelas 11 agar teman-teman di 1000 guru bisa memahami apa sih yang mesti didapatkan oleh para siswa/i di kelas dari materi yang mereka peroleh. Untuk kurikulum, sekarang sebenarnya agaknya dibuat lebih memudahkan untuk proses belajar, dengan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar untuk masing-masing tingkatan kelas sehingga guru dan siswa/i dapat mengembangkan beradasarkan potensi yang ada. Tapi, jauh dari itu, catatan saya di luar konteks telekonferensi kita, dengan diberlakukannya Ujian Nasional, sistem di Indonesia belum mendukung sepenuhnya.

Ini adalah sebuah awal dan insyaallah terus berproses. Sebuah awal yang menginspirasi langkah berikutnya. Tanggapan dari siswa/i di kelas ketika mengikuti telekonferensi, mengetahui latar belakang dan aktivitas Mas Sugeng yang berbagi ilmu dan motivasi sangat luar biasa. Ada rasa ingin tahu yang terasah dan motivasi yang terbangun.

Pekerjaan rumah berikutnya adalah berkoordinasi dengan guru-guru mata pelajaran lainnya. Dan semoga segera tersusun jadual atau rancangan kegiatan telekonferensi lanjutan.

Matur nuwun…..

Salam,

yoga

 

 

back to top
depan