Logo1000Guru
line decor
  - Best viewed in Firefox
line decor




TENTANG KAMI
PERKULIAHAN


mail to:
web-admin
 
 
 
 
 
 

Logo

 

Siapakah 1000Guru?

Gerakan 1000guru adalah sebuah lembaga swadaya masyarakat yang bersifat non-profit, non-partisan, independen, dan terbuka. Spirit dari lembaga ini adalah “gerakan” atau “tindakan” bahwa semua orang bisa menjadi guru dan berkontribusi untuk meningkatkan level pendidikan di Indonesia.
Gerakan 1000guru ingin menjawab salah satu permasalahan mendasar dari pendidikan dasar-menengah di Indonesia yaitu "kekurangan guru", baik dari sisi kuantitias, kualitas, maupun penyebaran, dengan memanfaatkan kelimpahan sumber daya manusia yang tersebar di bidang-bidang non-pendidikan dasar-menengah dan yang tersebar di seluruh penjuru planet.
Gerakan 1000guru juga ingin menyambung kembali tali ikatan kultural antara dunia pendidikan dan masyarakat, seperti di masa lalu ketika pendidikan masih berlangsung di lingkup keluarga. Pendidikan adalah satu-satunya aset yang tidak dimiliki oleh makhluk selain manusia, yang sudah terbukti dan akan terus menjadi motor yang memperpanjang nyawa peradaban manusia. Oleh karena itu, pendidikan adalah tanggung jawab seluruh elemen masyarakat.

 

Laporan Telekonferensi Senin, 2 November 2009

     
 

Seperti yang sudah dijadwalkan minggu lalu, saya di Dresden, Ibu Witri Lestari dan Pak Pupung Elhasany di Banyuwangi bersepakat untuk mengadakan pembelajaran lewat telekonferensi pada Minggu, 1 November 2009 dengan tema Hidrogen Sebagai alternatif Bahan Bakar,  saya sebagai koordinator, Ibu Witri Lestari sebagai pembicara dan Madrasah Aliyah Amirriyah di Banyuwangi segai target pembelajaran. Sempat dari kami di Jerman merasa ragu atas jadwal acara yang jatuh di hari Minggu, apakah adik-adik di Madrasah Aliyah Amirriyah Banyuwangi tidak libur. Ternyata melalui pesan email dari Pak Elhasany mengkonfiramsikan bahwa tidak ada masalah dengan jadwal tersebut, karena di MA Ammiriyah Banyuwangi hari Minggu bukan hari libur. Mereka berlibur pada hari Jum’at.

Saat itu kami juga sepakat untuk mengadakan gladi resik, untuk mencoba kelayakan perangkat keras dan lunak presentasi, sehari sebelum tanggal main, berarti jatuh di hari Sabtu 31 Oktober. Semua setuju apalagi dari pihak Jerman, baik bagi saya dan Ibu Lestari karena Sabtu dan Minggu adalah hari libur kami. Jadwal yang disepakati adalah sebagai berikut, gladi resik pada Hari Sabtu, pukul 5.30 waktu Jerman / 11.30 waktu Indonesia bagian barat dan acara utama presentasi dari ibu Lestari pada hari Minggu 1 November pukul 4.30 waktu Jerman / 10.30 waktu Indonesia bagian Barat.

Di hari yang sama saya mendapat email perkenalan dari Bapak Tito Wahyu Anggoro, guru dari SMK N  di Batu, Malang , Jawa Timur, yang menanyakan tentang proses pembelajaran 1000 guru dan menanyakan jadwal aktual. Setelah bicara panjang lebar lewat Skype dan Yahoo Messenger, saya saat itu tidak mempunyai kesan lain dari pembicaraan dengan Pak Anggoro ini, selain bapak yang satu ini sangat antusias terhadap program 1000 guru, saat itu saya langsung saja menyarankan kepada beliau untuk mengikuti langsung acara presentasi 1000 guru keesokan harinya dengan Ibu Lestari. Setelah percobaan alat-alat komunikasi dan jaringan internet antara saya dan Pak Anggoro. Saya dan beliau bersepakat untuk mengikutkan SMK Batu pada acara presentasi dari Ibu Lestari, juga Pak Anggoro ini setuju untuk ikut gladi resik pada 31 Oktober. Saat itu kami sudah saling bertukar account Yahoo Messenger, Skype dan mencoba Teamviewer. Tak lupa saya perkenalkan juga Pak Anggoro kepada Ibu Lestari secara terpisah.

Tibalah saatnya pada waktu yang direncanakan untuk gladi resik, setelah ditunggu-tunggu beberapa saat, sampai dua jam, dari pihak dari Banyuwangi belum juga ada kabar, terlebih lagi kami di Jerman belum mendapat akun YM dan Skype dari pihak MA Amirriyah di Banyuwangi, saat itu kami di Dresden agak ragu untuk kelanjutan presentasi keesokan harinya,apakah jadi atau tidak. Barulah beberapa jam setelahnya saya mendapat email pendek, satu baris dari Pak Elhasany yang mengabarkan ada masalah dengan jaringan internet. Dari email pendek itu juga saya mendapat kabar bahwa Pak Elhasany bekerja sampai malam demi perbaikan jaringan internet di MA Amirriyah Banyuwangi.

Seharian berita yang kami tunggu-tunggu dari MA Amirriyah di Banyuwangi tentang status internetnya tak kunjung datang. Malahan kami mendapat kepastian bahwa Pak Anggoro dari SMK Pertanian, Batu akan ikut presentasi secara paralel. Menurut saya rencana itu baik sekali, mengingat Ibu Lestari di Leipzig sudah mempersiapkan diri sedemikian rupa demi tidak mengecewakan audiens. Coba kalau tak ada audiens presentasi, sayang sekali dong persiapan yang sudah dilakukan sepenuh hati. Sekitar pukul 4 sore waktu Jerman saya baru mendapat kabar dari MA Amirriyah di Banyuwangi bahwa internetnya masih problem, dan sepertinya Pak Elhasany ini juga sudah begadangan karena hal ini. Lalu saya berinisiatif untuk mengundurkan waktu presentasi menjadi hari Senin, tanggal 2 November pukul 4.30 waktu Jerman / 10.30 waktu Indonesia Barat, semata-mata untuk memberikan waktu yang leluasa untuk pihak MA Amirriyah memperbaiki jaringan internetnya. Saya kabarkan juga kepada Ibu Lestari di Leipzig dan Pak Anggoro dari SMK Pertanian di Batu. Mereka mengatakan siap dengan jadwal yang baru.

Tibalah waktunya, pada hari Senin, 2 November pukul 4.30. Alhamdulillah semua muncul online, saya mendapat akun Skype Pak Elhasany di saat last minute dan kita bisa berkomunikasi satu sama lain antara empat titik di dua belahan bumi, saya di Dresden, Ibu Lestari di Leipzig dan Pak Elhasany di Banyuwangi serta Pak Anggoro di Batu. Sayangnya kami tidak bisa berkomunikasi dalam group di skype ataupun Conference di Yahoo Messenger. Setiap saya undang masuk forum bersama sambungan terputus. Tapi herannya sambungan antara saya, Ibu Lestari dan Pak Anggoro terus baik. Sepertinya internet di tempat Pak Elhasany di Banyuwangi belum pulih seperti sediakala.

Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya saya memutuskan membuka acara pembelajaran, bukan dengan Madrasah Aliyah Amirriyah di Banyuwangi, seperti rencana utama, tetapi malah dengan SMK Pertanian, Batu. Yang saya tahu waktu itu di SMK Pertanian pun banyak pesertanya kira-kira ada 18 murid. Setelah acara dibuka, Ibu Lestari melanjutkan dengan presentasi tentang Hidrogen sebagai alternatif bahan bakar ( Energy carrier). Presentasi berjalan lancar, tidak ada masalah di penggunaan Skype, Yahoo Messenger dan Teamviewer. Sepertinya adik-adik di SMK Pertanian, Batu menyimak presentasi dari Ibu Lestari dengan baik, apalagi presentasi dari Ibu Lestari dilengkapi data-data mutakhir dan faktual tentang energi dari hidrogen ini. Sayangnya menjelang halaman terakhir dari presentasi Ibu Lestari, adik-adik harus keluar kelas karena harus mengikuti mata pelajaran yang lain. Tapi meskipun begitu adik-adik kita menitipkan pertanyaan kepada pak Anggoro untuk disampaikan kepada presenter Ibu Lestari. Sampai menjelang akhir presentasi, kira-kira pukul 6.30 waktu jerman masih tak ada kabar dari Pak Elhasany di Banyuwangi, sepertinya internetnya masih ada gangguan, sebentar online lalu putus lagi. Saya yakin Pak Elhasany di Banyuwangi sudah berusaha keras untuk memperbaikinya. Baru beberapa saat sebelum kita berpisah secara online saya lihat Pak Elhasany online lagi, tapi sudah terlalu siang bagi kami di Jerman, untuk memulai dari awal presentasi karena hari itu kami harus mempersiapkan hari kerja kami.

Saya mengucapkan banyak terimakasih untuk semua pihak yang sudah mendedikasikan waktu, tenaga dan pikirannya untuk acara ini, mungkin acara ini hanyalah acara kecil, tapi dari sini saya yakin bahwa masih banyak dari kita yang dengan tulus mendedikasikan tenaga, waktu dan pikirannya untuk pendidikan. Seperti yang diharapkan pendiri organisasi 1000 guru. Saya angkat topi dan bangga untuk anda semua.

Di saat bertukar salam secara online saya mendengar suara Ibu Lestari masih segar dan bersemangat, malah beliau menawarkan jadwal baru untuk Madrasah Aliyah Amirriyah Banyuwangi, yaitu 14 atau 15 November. Demikian juga ketika saya berucap salam dengan Pak Anggoro dari Batu, dengan sedikit bergurau saya minta beliau tidak bosan untuk bertelekonferensi dengan 1000guru, beliau dengan sigap menjawab, tidak akan bosan. Saya sangat percaya atas ucapannya itu meskipun kita tahu kendala teknis kadang-kadang bikin kita semua frustrasi.

Terimakasih untuk semua. Tetap semangat untuk pendidikan Indonesia.

Salam.

Irvan Affandi , MSc

 

back to top
depan