Logo1000Guru
line decor
  - Best viewed in Firefox
line decor




TENTANG KAMI
PERKULIAHAN


mail to:
web-admin
 
 
 
 
 
 

Logo

 

Siapakah 1000Guru?

Gerakan 1000guru adalah sebuah lembaga swadaya masyarakat yang bersifat non-profit, non-partisan, independen, dan terbuka. Spirit dari lembaga ini adalah “gerakan” atau “tindakan” bahwa semua orang bisa menjadi guru dan berkontribusi untuk meningkatkan level pendidikan di Indonesia.
Gerakan 1000guru ingin menjawab salah satu permasalahan mendasar dari pendidikan dasar-menengah di Indonesia yaitu "kekurangan guru", baik dari sisi kuantitias, kualitas, maupun penyebaran, dengan memanfaatkan kelimpahan sumber daya manusia yang tersebar di bidang-bidang non-pendidikan dasar-menengah dan yang tersebar di seluruh penjuru planet.
Gerakan 1000guru juga ingin menyambung kembali tali ikatan kultural antara dunia pendidikan dan masyarakat, seperti di masa lalu ketika pendidikan masih berlangsung di lingkup keluarga. Pendidikan adalah satu-satunya aset yang tidak dimiliki oleh makhluk selain manusia, yang sudah terbukti dan akan terus menjadi motor yang memperpanjang nyawa peradaban manusia. Oleh karena itu, pendidikan adalah tanggung jawab seluruh elemen masyarakat.

 

Konsep Pendidikan dan Pendidikan Dasar di Jerman dalam Sebuah Teleconference 1000 Guru dan Kepala-kepala Sekolah di Cilacap

     
 

Syukur Alhamdulillah, telekonferensi antara kepala sekolah2  di Cilacap dan dua narasumber dari Dresen, Bpk. Dadang Kurnia dan Bpk. Dede S. sudah terlaksana dengan baik.

Telekonferensi ini diisi juga dengan forum dialog dan diskusi antara nara sumber dan audiens di Cilacap. Diskusinya cukup berbobot dan bermanfaat bagi kedua belah pihak. Meskipun saya mengikutinya dari handphone yang disambungkan oleh Sdr. Dede, saya bisa menangkap suasana sangat bergairah di kedua belah pihak, terutama ketika menyangkut diskusi tentang standar sekolah internasional dan aspek2 sosial pendidikan di jerman.

Dari hasil diskusi menurut pengamatan saya, saya dapat sekiranya menebak pertanyaan yang timbul di benak kawan2 di Cilacap, saya rekonstruksi dalam beberapa butir di bawah ini:

  1. perlukah standar internasional untuk pendidikan indonesia?
  2. dengan kenyataan bahwa negara2 maju tidak memiliki standar internasional malah memperkuat sistem pendidikannya dengan aspek sosiokultural domestik, masih relevankah standarisasi internasional pendidikan indonesia?
  3. kaitan dengan nomer2 diatas, percayakah kita bahwa pendidikan kita akan lebih maju jikalau kita merangkul local wisdom :karakter Indonesia, dengan aspek sosiokultur dan potensi lokal yang sangat kaya

Semoga diskusinya memberikan keberanian untuk melakukan autokritik untuk apa yang sedang kita lakukan sekarang untuk pendidikan Indonesia. Terutama bagi kawan2 di Cilacap yang jadi ujung tombak pendidikan dasar di sana.

Mohon diberikan juga umpan balik bagi nara sumber karena saya sendiri yakin idealisme dan konsep2 di tataran akademis dan pengalaman lokal di sini harus juga diuji di ajang nasional.

Ada hal yang menarik perhatian saya, ada satu pertanyaan praktis dari Cilacap : akan kemanakah perginya intelektual pendidikan Indonesia (khususnya Pak Dadang) setelah menyelesaikan pendidikan di LN. Pak Dadang menjawab, akan pulang dan mengabdi di Institusi Pendidikan di Indonesia (UPI), secara filosofis ini merupakan pertanyaan penting dan berlaku generik bagi semua intelektual yang menimba ilmu di LN.

Bahwa mereka memang sebaiknya pulang untuk menjadi vektor perubahan di Indonesia, sekecil apapun. Meskipun tantangan di Indonesia sangat besar dengan kompleksitas yang tinggi. Jepang Cina dan India adalah contoh baik dari repatriasi intelektual. Merekan maju karena lulusan LN nya “rela” pulang, berkiprah dan berkarya nyata di negara asalnya.

Salam Pendidikan Indonesia,
Dede, Dadang, Imron dan Ipang ( Dresden, Jerman)

———————————

Laporan dari Cilacap

SD Al-Irsyad 02 Cilacap kembali  menggelar acara teleconference dengan 1000guru. Telco Kali ini digawangi  dua kandidat doktor Technische Universität Dresden, Jerman yaitu Dadang Kurnia dan Dede Syaehaumisbah. Acara yang sedianya berjalan pukul 11.00 WIB mundur sekitar 15 karena peserta belum hadir sesuai jumlah undangan, namun penantian menjadi tidak membosankan karena diisi dengan perkenalan dari guru relawan asal Tasikmalaya yaitu “Mang Dadang”.

Setelah beberapa saat para peserta mulai bertambah sehingga bapak Budiyono selaku Kepala Sekolah membuka acara telco dengan sedikit memberikan penjelasan kepada audiens tentang kegiatan telco di SD Al-Irsyad 02. Selanjutnya telco dipandu oleh koordinator telco yaitu Ariawan Istiadi, beliau menjelaskan jalannya telco kepada peserta yang dihadiri Kepala UPT Dinas Dikpora Bpk Darno,S.Pd.MM, 20 Kepala Sekolah, dan beberapa guru SD Al-Irsyad 02 Cilacap serta diliput oleh wartawan harian “Suara Merdeka” (korannya orang Jateng).

Telco kali ini mengupas tentang  pendidikan dasar. Pertama-tama presentasi dari Bpk. Dadang Kurnia dengan judul “Konsep Pendidikan”. Presentasi yang berjalan kurang lebih 15 menit berisi tentang konsep pendidikan di negara-negara maju (contoh salah satunya: Jerman) menekankan pendidikan dengan pendekatan sosio kultural. Proses pendidikan dengan pendekatan budaya sendiri atau kembali ke akar inilah yang menjadikan kemajuan pendidikan di negara-negara maju. Sehingga timbul pertanyaan; mengapa di Indonesia ramai diadakan sekolah dengan kurikulum “internasional”? Padahal kurikulum itu sendiri adalah panduan pembelajaran bagi suatu bangsa yang dikembangkan sesuai dengan budaya masing-masing bangsa.

Selanjutnya 15 menit kedepan di pandu oleh Bpk Dede Syaehumisbah dengan presentasi berjudul “Pendidikan Dasar di Jerman”. Isi materi antara lain tentang:

  1. Struktur dasar pendidikan di Jerman (SD ditempuh dalam 4 tahun)
  2. SD Jerman dalam perbandingan Internasional (dalam bidang math & sains, peringkat ke 12 dunia)
  3. Pembelajaran di SD;
    a. fokus pembelajaran disesuaikan dgn kondisi psikologis usia anak SD
    b. kelas 1-2 hanya bermain dengan guru memandu semua mapel
    c. menekankan interaksi sosial dan kemandirian
    d. Tidak mengenal “seragam” & “Ujian Nasional“
  4. Muatan utama kurikulum di SD (bahasa ibu, matematika, umum dan agama/etika)
    Memasuki sesi dialog, Bpk. Imron, Bpk. Irvan Affandi dan Bp. Khalimi hendak bergabung tetapi terpaksa kami “decline” karena telco “tunggal” saja suara berkali-kali terputus (jadi kami mohon maaf)

Pertanyaan pertama dari ibu Sunarsih (SDN Lomanis):”Bgm cara menerapkan pembelajaran politik sejak dini?”.
jawab: mengenalkan langsung kegiatan-kegiatan bernuansa politik

Pertanyaan kedua dari ibu Pamularsih (SDN Donan):”Apa parameter yang menjadi acuan penelitian tentang peringkat “pendidikan Indonesia” yang ke-160 di dunia?”.”Bgm kurikulum yang baik?”
jawab: Salah satunya dengan mengukur kemampuan peserta didiknya. Selain itu, kurikulum yang sesuai kearifan budaya lokal

Pertanyaan ketiga dari Bpk. Darno (Ka UPT):”Apa bahasa pengantar di kelas, bgm kesejahteraan guru SD di Jerman, dan bgm kalender pendidikan di Jerman”.
jawab: mengutamakan bahasa ibu, gaji sekitar 3000-5000 euro, per-semester

Pertanyaan keempat dari Bpk. Jumakir (SDN Kotawaru):”Bgm pengaturan tugas guru di tingkat SD (guru kelas/guru bidang study)?”.
jawab: kelas 1-2 oleh wali kelas, kelas 3-4 oleh guru bidang study

Pertanyaan kelima dari Bpk. Budiyono (SD Al-Irsyad 02):”Apa maksud pendidikan di Jerman mendidik menjadi manusia yang ‘membangun’?”
jawab: menjadikan manusia yang dewasa dan mandiri

Pertanyaan keenam dari Bpk. Dhika (wartawan Suara Merdeka):”Berapa besar alokasi dana pendidikan dari pemerintah Jerman?”
jawab: untuk riset pendidikan saja 10% dari APBN

Pertanyaan ketujuh dari Ibu Ngadinem (SDN Donan):”Adakah lembaga yang bisa mensponsori study banding atau study lanjut di Jerman?”
jawab: "inwent/DAAD” link : http://www.inwent.org/index.php.dehttp://www.daad.de/de/index.html

Pertanyaan kedelapan dari Bpk. Ari (SD Al-Irsyad 02):”Adakah pengklasifikasian kelas berdasarkan kemampuan siswa?”
jawab: ada dan pemerintah konsisten dengan segala resiko

Pertanyaan kesembilan dari ibu Sunarsih (SDN Lomanis):”Apa cita-cita anda setelah selesai study, adakah keinginan kembali ke  tanah air?”
jawab: berdua komitmen kembali ke tanah air dan memajukan pendidikan di Indonesia


Akhirnya, telco ditutup dengan ucapan terimakasih dari koordinator telco kepada para guru relawan dan permohonan telco selanjutnya, serta permohonan maaf kepada seluruh peserta telco karena terdapat gangguan suara yang sering terputus-putus. Namun alhamdulillah secara keseluruhan informasi dari kedua guru relawan dapat diterima dengan baik.

oleh Ariawan Istiadi

 

back to top
depan