Logo1000Guru
line decor
  - Best viewed in Firefox
line decor




TENTANG KAMI
PERKULIAHAN


mail to:
web-admin
 
 
 
 
 
 

Logo

 

Siapakah 1000Guru?

Gerakan 1000guru adalah sebuah lembaga swadaya masyarakat yang bersifat non-profit, non-partisan, independen, dan terbuka. Spirit dari lembaga ini adalah “gerakan” atau “tindakan” bahwa semua orang bisa menjadi guru dan berkontribusi untuk meningkatkan level pendidikan di Indonesia.
Gerakan 1000guru ingin menjawab salah satu permasalahan mendasar dari pendidikan dasar-menengah di Indonesia yaitu "kekurangan guru", baik dari sisi kuantitias, kualitas, maupun penyebaran, dengan memanfaatkan kelimpahan sumber daya manusia yang tersebar di bidang-bidang non-pendidikan dasar-menengah dan yang tersebar di seluruh penjuru planet.
Gerakan 1000guru juga ingin menyambung kembali tali ikatan kultural antara dunia pendidikan dan masyarakat, seperti di masa lalu ketika pendidikan masih berlangsung di lingkup keluarga. Pendidikan adalah satu-satunya aset yang tidak dimiliki oleh makhluk selain manusia, yang sudah terbukti dan akan terus menjadi motor yang memperpanjang nyawa peradaban manusia. Oleh karena itu, pendidikan adalah tanggung jawab seluruh elemen masyarakat.

 

Telekonferensi Lintas Benua, Semarang – Melbourne

     
 

Telekonferensi Lintas Benua, Semarang – Melbourne, demikian kegiatan yang diusung Pramuka Gugus Latih Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Semarang dalam rangka memeringati hari Pramuka 14 Agustus 2010, pekan lalu. Kegiatan ini merupakan kerja sama antara pihak Pramuka dengan Gugus Depan bernomorkan 14.111 dan 14.112 dengan Jaringan 1000guru.net.

Kegiatan yang berlangsung di salah satu ruang pertemuan di Gedung Dekanat FBS ini dimulai pukul 9.30 WIB dan berakhir pada pukul 12.30 WIB. Agenda yang tersusun adalah sambutan dari pihak Pendamping Pramuka, yang pada kesempatan ini diwakilkan oleh Koordinator Pendamping Putri, Kakak Fatma Hetami. Selanjutnya, pembukaan dilakukan oleh Pembantu Dekan III, Kak Made Dewa untuk urusan kemahasiswaan dan dilanjutkan dengan penayangan slide kegiatan Gugus Latih Base Racana Wijaya. Base merupakan nama pendek untuk Fakultas Bahasa dan Seni sementara Racana Wijaya merupakan sebutan untuk gerakan Pramuka tingkat universitas di kampus UNNES. Setelah itu, juga diputarkan slide megenai sejarah Pramuka di dunia, yang diawali dengan profil Lord Baden Powel, the founding father of scouting. Juga muncul wajah-wajah dari generasi ke generasi yang aktif dalam kegiatan kepanduan di berbagai penjuru dunia, termasuk di tanah air kita Indonesia.

Yang dapat disimak dari tayangan-tayangan tersebut, memang dapat disimpulkan Pramuka tak lepas dari semangat, generasi muda, kepedulian, dan alam. Hal ini memang merupakan muatan dari Dasa Darma Pramuka, suatu ikatan ikrar yang tertanam dalam diri setiap Pramuka. Hal ini juga yang menjadi gagasan awal untuk memunculkan tema Climate Change: Why and How? dalam kegiatan telekonferensi kali ini. Diharapkan, dari kegiatan ini dapat memancing diskusi dan motivasi mengenai kesadaran atas lingkungan, terutama yang terkait dengan isu global yakni perubahan iklim.

Suatu kehormatan sekaligus kesempatan yang luar biasa bahwa narasumber kali ini adalah salah seorang anak bangsa yang tengah mengenyam ilmu di University of Melbourne, Australia untuk mencapai gelar Master dalam bidang Earth Science. Beliau adalah Kak Dian Nur Ratri, yang juga berstatus sebagai sebagai staf di Badan Metereologi, Klimatologi, dan Geofisika, Jakarta.

Kak Dian, demikian panggilan beliau dalam telekonferensi bersama Base Racana Wijaya, mulai menyapa para peserta pada sekitar pukul 11.00 wib atau sekitar pukul 13.00 waktu Melbourne. Kak Dian memulai presentasi dengan mengangkat persoalan yang dialami bumi, dan juga yang menimpa negeri kita, yaitu jumlah penduduk yang kian memadat. Persoalan ditambah lagi dengan pesoalan yang terkait dengan alam dan lingkungan, seperti persentase curah hujan yag terjadi pada Musim Kemarau dan Musim Hujan. Penjelasan dari Kak Dian adalah sebagai berikut:

persentase curah hujan rata-rata 2001-2007 terhadap rata-rata 1971-2000, pada periode musim kemarau di sebagian besar daerah menurun hingga < 85% (147 zom atau 67%). Sementara itu, sebanyak 12 zom (5%) meningkat hingga > 115%, dan sebanyak 61 zom (28%) masih berkisar normalnya antara 85% - 115%”.

Kita sebagai orang awam dapat mengenalinya dengan semakin tidak tentunya musim yang kita alami. Seperti hawa panas yang luar biasa, atau hujan yang turun dengan tiba-tiba atau berkepanjangan. Dan dari pengamatan secara ilmiah, keadaan ini memang terjadi di tiap-tiap pulau besar Indonesia dengan presentase curah hujan yang beragam di tiap-tiap titik, mulai dari provinsi hingga kecamatan.

Fenomena inilah yang kerap dikenal sebagai isu perubahan iklim. Untuk memahami pengertian perubahan iklim, ada baiknya dimulai dengan memahami pengertian istilah efek rumah kaca. Efek rumah kaca adalah suatu kejadian makin memanasnya bumi akibat energi yang terpancarkan langsung dari matahari. Ini terjadi karena sebagian sinar inframerah yang yang datang ke bumi diteruskan melewati atmosfer, namun sebagian besar diserap dan dipancarkan kembali ke segala arah oleh awan dan molekul gas rumah kaca.

Kejadian ini mau tak mau membuat kita kembali lagi pada persoalan meningkatnya jumlah populasi manusia, dengan peningkatan gas rumah kaca alami yaitu uap air akibat respirasi sehari hari, peningkatan gas rumah kaca lainnya akibat kebutuhan akan konsumsi dan energi, serta proses industrialisasi dan perkembangan teknologi mau tidak mau juga membutuhkan sumber energi yang besar dan penumpukan limbah hasil industri yang sedemikian besar ke alam.

Kak Dian menampilkan gambar-gambar yang tak asing lagi di mata kita, yakni asap yang mengepul dari pabrik-pabrik industri, juga dari pipa knalpot deretan kendaraan bermotor yang memenuhi ruas jalan, juga asap hasil pembakaran sampah di hunian rumah tangga.

Demikian sebab musabab terjadinya perubahan iklim. Lalu how? Kata kunci yang ditawarkan Kak Dian adalah kesadaran. Kesadaran sebaiknya mulai datang dari tiap individu, hingga kesadaran yang terwujudkan dalam program-program besar yang melibatkan kebijakan pemerintah, pihak industri baik besar dan kecil, hingga tingkat dunia. Jadi memang benar adanya bahwa kita pun mampu mengendalikan perubahan iklim yang terjadi di dunia ini. Ada pesan  yang disitir Kak Dian dari kata-kata bijak seorang Mahatma Gandhi, gunakan energi sesuai dengan yang memang kamu butuhkan bukan sebesar yang kamu inginkan.

Tampak jelas kak Dian sangat berharap penjelasan serta pesan yang dibagikannya melalui telekonferensi dapat tersampaikan kepada Pramuka Guslat Base Racana Wijaya. Memang ada kendala teknis yang kami jumpai pada saat presentasi kak Dian, yakni suara yang terdengar terputus-putus tidak jernih. Sampai-sampai kami tidak bisa melihat senyum Kak Dian karena wajahnya tampak sengaja ditundukkan untuk mendekati speaker pada komputer di hadapannya. Kak Dian sebenarnya juga menyampaikan materi dengan beberapa klip film. Tapi, barangkali karena masalah sinyal, hanya satu yang bisa ditampilkan dengan tampilan yang bergerak perlahan, yakni film dari presentasi Al Gore, Inconvenient Truth, seputar isu pemanasan global dan strategi jalan keluar yang ditawarkan.

Kendala teknis yang kami alami rupanya tak menyurutkan semangat dan keingintahuan adik-adik Pramuka, yang menghadiri kegiatan in hingga akhir. Jumlah mereka sekitar 20 orang. Jumlah total anggota Base sebenarnya sekitar 30 orang, putra dan putri. Tetapi, pekan ini sebenarnya masih merupakan masa liburan bagi mahasiswa. Sehingga perlu dimaklumi banyak anggota yang tidak hadir. Ada empat aktivis Base Racana Wijaya yang mengajukan pertanyaan, yakni Lukman dan Windha dari Jurusan Sastra dan Bahasa Inggris, Ria dan Bunga dari Jurusan Bahasa dan Sastra Asing (Prodi Perancis).

Pertanyaan yang diajukan masing-masing penanya cukup panjang dan menarik. Seperti pertanyaan dari Lukman seputar program-program pemerintah, program yang dijalankan Unnes yang mendeklarasikan diri sejak Maret 2010 lalu sebagai Kampus Konservasi, hingga bagaimana bisa melanjutkan sekolah hingga ke luar negeri. Juga ada pertanyaan dari Windha mengenai respon dari Australia terhadap program lingkungan yang dilakukan Indonesia. Sementara Bunga terusik dengan berita di koran pekan-pekan sebelumnya tentang kepastian terjadinya tsunami matahari di atas bumi.

Meski terkendala secara teknis, Kak Dian tetap bersemangat menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Dan penanya yang masing-masing mendekat layar komputer juga berusaha menyimak tanggapan Kak Dian dengan bergerak makin mendekati komputer di hadapannya. Kak Dian menanggapi positif setiap program yang dilakukan, baik di tingkat nasional maupun yang dimiliki Unnes. Tak lepas dari itu, Kak Dian tetap menegaskan yang paling penting adalah kesadaran yang muncul dari tiap individu. Sementara, mengenai publikasi atas laporan pengamatan kemungkinan terjadinya tsunami matahari ataupun ramalan-ramalan dan tayangan film 2012, kak Dian meminta agar kita tidak terlalu jauh menanggapinya secara berlebihan. Sekali lagi, yang paling penting adalah bagaimana kita menyikapi perubahan iklim dengan menggunakan energi secara bijak dimulai dari hal-hal kecil di sekeliling kita, seperti hemat energi dalam mengkonsumsi listrik, kertas, trasnportasi, dan sebagainya. Menurut Kak Dian, menanggapi pertanyaan tentang respon Australia terhadap Indonesia adalah Dunia memandang Indonesia menjadi negara dalam urutan ketiga pelepas emisi karbon terbesar di dunia Akibat Kebakaran hutan pada tahun 1997-1998 dimana 10 juta hektar hutan Indonesia mengalami kerusakan dan telah melepas gas rumah kaca sebesar 0,81-2,57 Gg karbon. Pesan Kak Dian, mari kita buktikan ke dunia kalau kita bisa menghijaukan bumi ini. Hingga acara berakhir, masih ada beberapa mahasiswi yang mendekat ke komputer di meja depan, menyapa dan mengobrol sebentar dengan kak Dian, langsung dari Melbourne, Australia.

Sekitar pukul 12.30 wib atau 15.30 waktu Melbourne, telekonferensi diakhiri. Terima kasih tak terhingga dari kami di Kampus FBS Unnes untuk kesediaan waktu berbagi ilmu, pengalaman, dan motivasi. Oh ya, Kak Dian saat melakukan telekonferensi ini sengaja datang bersama keluarga dari kediaman beliau ke kediamannya kak Ita Kartika, yang juga guru relawan 1000guru yang tengah menempuh jalur Ph.D di bidang medis Spesialis Anak. Kami di sini juga sempat mendengar suara bayi kecil Kak Dian. Sungguh suatu kehormatan yang benar-benar luar biasa bagi kami, di sela-sela kesibukan Kakak-Kakak dengan urusan studi dan keluarga, Kak Dian dan Kak Ita dengan senang hati menyempatkan diri untuk kegiatan ini. Ada banyak pesan dan pelajaran yang kami dapat petik.

Untuk kendala teknis, persoalan ini juga menjadi pelajaran bagi kami untuk lebih cermat mengantisipasi, terutama tentang apakah komputer memang compatible dengan LCD projector. Pada hari itu, barangkali persoalan ini disebabkan kualitas suara dari komputer yang kami gunakan. Komputer ini secara dadakan kami gunakan karena ternyata komputer yang sedianya akan kami gunakan tidak compatible  dengan LCD yang tersedia. Alhasil, kami segera menginstal fasilitas skype dan teamviewer menjelang kegiatan dimulai. Koneksi internet juga hanya mengandalkan hotspot kampus, yang sedianya kami antisipasi dengan menggunakan modem mobile. Akan tetapi, kami tidak sempat untuk menginstal modem ke komputer yang dipakai. Terkait dengan persoalan suara yang terputus-putus ini, Kak Dian membuka kesempatan bagi pramuka yang ingin bertanya lebih lanjut melalui email.

Semoga telekonferensi perdana 1000guru di kampus Unnes ini tidak menjadikan kita patah arang untuk tetap membangun kesadaran atas lingkungan, juga berbagi motivasi dan ilmu pengetahuan dalam jaringan relawan 1000guru. Terima kasih sekali lagi, yang tak terhingga.

Salam Pramuka, Salam Konservasi dari kampus Universitas Negeri Semarang

Triyoga Dharma Utami  – Pendamping Putri Pramuka Guslat FBS, UNNES

 

back to top
depan