Logo1000Guru
line decor
  - Best viewed in Firefox
line decor




TENTANG KAMI
PERKULIAHAN


mail to:
web-admin
 
 
 
 
 
 

Logo

 

Siapakah 1000Guru?

Gerakan 1000guru adalah sebuah lembaga swadaya masyarakat yang bersifat non-profit, non-partisan, independen, dan terbuka. Spirit dari lembaga ini adalah “gerakan” atau “tindakan” bahwa semua orang bisa menjadi guru dan berkontribusi untuk meningkatkan level pendidikan di Indonesia.
Gerakan 1000guru ingin menjawab salah satu permasalahan mendasar dari pendidikan dasar-menengah di Indonesia yaitu "kekurangan guru", baik dari sisi kuantitias, kualitas, maupun penyebaran, dengan memanfaatkan kelimpahan sumber daya manusia yang tersebar di bidang-bidang non-pendidikan dasar-menengah dan yang tersebar di seluruh penjuru planet.
Gerakan 1000guru juga ingin menyambung kembali tali ikatan kultural antara dunia pendidikan dan masyarakat, seperti di masa lalu ketika pendidikan masih berlangsung di lingkup keluarga. Pendidikan adalah satu-satunya aset yang tidak dimiliki oleh makhluk selain manusia, yang sudah terbukti dan akan terus menjadi motor yang memperpanjang nyawa peradaban manusia. Oleh karena itu, pendidikan adalah tanggung jawab seluruh elemen masyarakat.

  Agung Budiyono      
 


FOTO

 

Nama
:
Agung Budiyono
Tempat/Tgl. lahir
:
Juwana / 30 Maret 1976
Riwayat Sekolah
:
SDN 1 Growong Lor 1 (1982-1989)
SMPN 1 Juwana (1989-1991)
SMUN 1 Pati (1991-1994)
ITB Teknik Elektro (1994-1995) - keluar tengah jalan
Kyoto Univeristy (1996-2001) - S1 (bachelor)-S2 (master)
Osaka City Univerisity (2001-2003): S3 (doktor)
Pekerjaan
:
Postdoc di Tokyo University, Tokyo, Jepang (2003-2005)
Asistent Profesor di Albert-Ludwigs-Freiburg Universitaet, Freiburg, Jerman (2007-2008)
Peneliti di RIKEN (The Physical and Chemical Research Institute), Saitama, Jepang (2008-sekarang)
Hobi
:
Jalan kaki
Status Keluarga
:
Belum menikah
email
:
agungby at yahoo dot com



1. Apa cita-cita anda waktu kecil?
Menjadi penyihir
 
2. Ceritakan hal yang paling mengesankan sewaktu sekolah dari TK-SMA?
Waktu itu kalo tidak salah kelas VI SD. Kita satu kelas mendapat tugas dari ibu wali kelas untuk Membuat bel listrik-mekanik. Bagan praktikum sudah ada buku pelajaran yang waktu jaman itu semua anak dapat pinjaman dari sekolah. Tidak seperti sekarang. Kebetulan saya waktu itu ketua kelas. Maka kita rame-rame mencari bahan-bahan untuk pratikum itu: kabel trafo, sekrup besar, bell sepeda, dll. Karena kebetulan bapak punya bengkel maka kita kerjakan rame-rame di rumah saya. Saking ramenya, akhirnya gagal. Kita bahkan tidak bisa menyulap sekrup menjadi magnet setelah dililiti kabel trafo dan dialiri listrik. Teman-teman pulang dan alat-alat praktikum disimpan dirumah saya. Hari-hari berikutnya, saya lalu mencoba mengerjakan sendiri. Saya masih ingat saat itu, ketika saya begitu punya passion-cinta pada yang saya lakukan. Akhirnya saya bisa membuat sekrut menjadi magnet setelah beberapa kali mencoba. Dan disaat berikutnya, bell listrik itu berbunyi. Itulah mungkin situasi eureka yang pertama yang pernah saya alami. Saya masih ingat saya berlari mencari ibu saya menunjukkan kalo bel listrik nya bunyi. Hari berikutnya saya pamerkan bel listrik itu ke kelas dan disimpan di sekolah.
 
3. Ceritakan hal yang paling menantang sewaktu sekolah dari TK-SMA!
Sewaktu saya kecil, saya merasa sebagai anak yang sulit paham, terutama saya sangat sulit memahami pelajaran matematika. Ketika kelas III-IV SD misalnya, saya sulit memahami soal-soal cerita yang mudah-mudah. Misalnya, soal berikut: Budi diberi uang Rp. 500 oleh Ibu Budi. Lalu dibelikan balon seharga Rp. 200, berapakah sisa uang Budi. Setiap malam sebelum pelajaran keesokan harinya, saya biasanya menanyakan ke Ibu apakah saya harus menambah, mengurangi, mengalikan dan lain-lain. Jadi buku pelajaran saya biasanya banyak tanda-tanda plus, minus, dan sejenisnya, sehingga kalau disuruh maju saya agak percaya diri. Saya juga punya kesulitan memahami bilangan-bilangan pecahan. Entah sejak kapan saya mulai melewati kesulitan-kesulitan itu. Yang jelas, saya masih tidak suka mathematika sampai SMP dan baru menyukai mathematika ketika SMA. Lucunya selama SD-SMP saya begitu menyukai fisika dan biologi. Setelah besar saya baru mengerti kalau saya punya kesulitan pada masalah-masalah formal, konvensi, yang memang memenuhi pelajaran mathematika. 2+2=4, bukan karena benar, tapi karena konvensi. Sekarang saya mendapati diri saya sebagai peneliti yang sangat tertarik pada arti-arti fisika dari konvensi-konvensi mathematika yang dipakai di fisika: fondasi fisika.
 
4. Siapa guru yang paling mengesankan bagi anda, dan mengapa?
Ibu Winarsih, wali kelas saya pas SD. Beliau pernah bilang didepan kelas: siapa tahu suatu saat Agung akan membuat bis yang berbahan bakar air. Sejak saat itu saya sibuk mendesain mesin yang bisa jalan sendiri dengan prinsip archimedes. Saya baru sadar setelah besar bahwa desain saya itu salah total dari sisi prinsip: energi tidak bisa diciptakan dari ketidakadaan.
 
5. Ceritakan hal yang paling inspiratif dalam hidup anda!
Saat melihat seorang anak yang buta yang mendorong kursi roda untuk seorang anak perempuan yang lumpuh, di depan kost di Shogoin, Kyoto.
 
6. Apa cita-cita anda sekarang?
Banyak: Membuat penelitian yang bisa memberi perbedaan di dunia fisika. Membagi mimpi-mimpi saya ke adik-adik saya. Kadang-kadang masih teringat cita-cita waktu kecil menjadi seorangpenyihir.
 
7. Cerita-cerita yang lain yang berkesan selama sekolah-bekerja.
Tiga tahun yang lalu, saya merasa menemukan sesuatu yang penting pada penelitian saya. Dalam enam bulan, saya merasakan masa-masa eureka. Terjaga sampai tengah malam, menghitung, menulis, mengedit. Terbangun sangat pagi. Tidur sangat kurang, tapi tidak merasa kurang tidur. Perasaan excitement yang dating terus-menerus. Masalah datang hari senin, merasa terpecahkan jumat berikutnya. Baru kemudian setelah waktu berlalu, setelah 2.5 tahun, saya mulai sadar banyak kesalahan pada formalisasi-hitungan saya. Bagaimana seseorang mudah ditipu oleh pikirannya sendiri, dan sulit untuk keluar justru dari belenggu yang dibuatnya sendiri. Dari situ sekarang saya mulai belajar menciptakan orang lain pada diri saya sendiri untuk membantu melepaskan saya ketika saya terjebak oleh pikiran sendiri.