Logo1000Guru
line decor
  - Best viewed in Firefox
line decor




TENTANG KAMI
PERKULIAHAN


mail to:
web-admin
 
 
 
 
 
 

Logo

 

Siapakah 1000Guru?

Gerakan 1000guru adalah sebuah lembaga swadaya masyarakat yang bersifat non-profit, non-partisan, independen, dan terbuka. Spirit dari lembaga ini adalah “gerakan” atau “tindakan” bahwa semua orang bisa menjadi guru dan berkontribusi untuk meningkatkan level pendidikan di Indonesia.
Gerakan 1000guru ingin menjawab salah satu permasalahan mendasar dari pendidikan dasar-menengah di Indonesia yaitu "kekurangan guru", baik dari sisi kuantitias, kualitas, maupun penyebaran, dengan memanfaatkan kelimpahan sumber daya manusia yang tersebar di bidang-bidang non-pendidikan dasar-menengah dan yang tersebar di seluruh penjuru planet.
Gerakan 1000guru juga ingin menyambung kembali tali ikatan kultural antara dunia pendidikan dan masyarakat, seperti di masa lalu ketika pendidikan masih berlangsung di lingkup keluarga. Pendidikan adalah satu-satunya aset yang tidak dimiliki oleh makhluk selain manusia, yang sudah terbukti dan akan terus menjadi motor yang memperpanjang nyawa peradaban manusia. Oleh karena itu, pendidikan adalah tanggung jawab seluruh elemen masyarakat.

  Ika Puspita Sari      
 


FOTO

 

Nama
:
Ika Puspita Sari
Tempat/Tgl. lahir
:
Yogya, April 1971
Riwayat Sekolah
:
SDN Pujokusuman III Yogya
SMPN 8 Yogya
SMAN 1 Yogya
Fak. Farmasi UGM (S1, S2 dan apoteker)
Pekerjaan
:
Dosen Bagian Farmakologi dan Farmasi Klinik, Fak.Farmasi UGM
Hobi
:
berkebun, masak, nulis buku
Status Keluarga
:
menikah, dengan 3 anak
email
:
ika.puspitasari at gmail dot com



1. Apa cita-cita anda waktu kecil?
Menjadi guru (pernah akan masuk SPG, karena orang tua saya tidak mampu). Namun karena setiap hari diejek oleh tetangga yang kaya raya "anak sopir mau jadi apa?", maka saya punya tekad yang besar untuk kuliah walaupun ditopang oleh Bude dan mencari beasiswa sejak SD hingga lulus Apoteker. Begitu pun untuk kuliah S2 dan S3, saya juga mencari bea siswa karena menyadari sebagai orang yang tidak punya banyak uang untuk sekolah, namun tekad untuk belajar lanjut terus menyala.
 
2. Ceritakan hal yang paling mengesankan sewaktu sekolah dari TK-SMA?
Saya dibesarkan oleh nenek (Bibi ibu saya), dan dibiasakan oleh nenek untuk belajar rutin jam7-9 malam, sejak SD dan terbawa hingga kuliah. Nenek selalu bilang "Kamu anak orang miskin, jadi harus belajar biar jadi orang pinter, bisa mandiri tidak menyusahkan orang lain". Itu selalu terngiang di telinga saya yang membuat saya belajar keras.Nenek tidak bilang supaya saya jadi orang kaya, tapi supaya tidak menyusahkan orang lain. Itu yang membentuk saya, ingin menjadi guru supaya tidak menyusahkan orang lain dan mendidik anak-anak miskin supaya mereka pun saat dewasa bisa mandiri.
Saat saya SD, saya diberi kepercayaan oleh guru saya untuk mengoreksi pekerjaan adik-adik kelas saya (tes hasil belajar=THB) dan saya dibayar dengan diberi buah-buahan. Kelas 4 SD saya dipercaya juga membeli dari grosir (kulakan-Jawa) makanan kecil dan barang-barang yang dijual untuk koperasi sekolah.
Tiap musim THB datang, saya lebih suka di desa, saya minta diantarkan ke suatu desa yang masih sepi di dekat makam Imogiri, desanya namanya KedungBuweng, sebuah desa terpencil dengan lokasi menjorok seperti jurang, tapi suasanya sungguh pas buat belajar. Saya biasa duduk di pohon sambil belajar, diantarkan pagi hari oleh nenek, dijemput sore hari. Sesudah SMP, saya berani naik bis sendiri, jadi saya tak perlu diantar lagi ke Kedung Buweng (jarak dari rumah saya sekitar 1 jam dengan bis).
 
3. Ceritakan hal yang paling menantang sewaktu sekolah dari TK-SMA!
Waktu SD, tetangga mengejek saya anak miskin pasti nggak akan bisa sekolah tuntas, maka saya belajar tekun, sampai bisa dapat beasiswa dan juara kelas sejak klas 1-6, juara lomba bidang studi, juara cerdas cermat agama.
Waktu SMP, saya sekolah di kota SMP8, diejek tetangga kok pilih sekolah di kota, nanti kena narkoba, tapi saya buktikan dengan tindakan kalo saya benar-benar ingin mencari ilmu bukan mau hura-hura, terbukti saya juara kelas sejak klas1-3 SMP, dan juara NEM tertinggi se DIY tahun 1987 (nilai matematika saya bulat 10).
Masuk SMA, saya ditantang apa bisa masuk SMA1, waktu itu mencuat masalah rayonisasi, yg membuat beberapa teman mundur untuk ke SMA 1. Saya hampir minta pindah rumah nunut teman agar bisa di SMA1. Ternyata kabar rayonisasi bukan seperti yang dibayangkan orang-orang selama ini. Saya tetap mendaftar di SMA1 dan masuk, nama saya terpampang di no 1 sesuai NEM tertinggi. Di SMA banayk teman saya berasal dari keluarga mampu dan cukup, tapi saya tidak malu untuk bilang bapak saya sopir bis, karena ternyata saya tetap punya banyak teman yang ke rumah untuk belajar bersama atau minta diajari PR.Di kegiatan ekstra kurikuler saya tertantang meneliti berawal dari penyakit nenek saya diabetes.
Dengan akar Jamblang, nenek membaik, maka saya meneliti dengan kelinci, dan nekad ke UGM (Fakultas Kedokteran bagian Biokimia, diarahkan ke Farmasi, ketemu dengan Bapak Imono AD (alm), yg pada akhirnya menjadi teman satu lab, dan di Sekolah Analis Kesehatan kebetulan Bapaknya teman saya adalah Kepala Sekolahnya).Dengan bantuan banyak pihak, dan dorongan besar dari nenek yang membelikan saya kelinci, saya berhasil menjadi juara 1 LKIR LIPI-TVRI bidang MIPA tahun 1989, dilanjutkan dengan ke Singapura mewakili Indonesia dalam Singapore Youth Science 1990).
 
4. Siapa guru yang paling mengesankan bagi anda, dan mengapa?
Di SD, guru klas 4 namanya Bu Rahmat/Bu Sujirah sanagt mempengaruhi diri saya, beliau hidup sederhana dengan 4 putra (waktu itu jarang saya lihat suami beliau, belakangan setelah saya dewasa saya baru tahu kalau guru saya adalah istri tua yang dimadu), dengan sabar mendidik putra-putrinya, yg pertama kuliah di Kedokteran Gigi UGM, Yg kedua di ITB, yg ketiga di Kedokteran UGM dan yg paling kecil di STAN. Saya sering diajak ke rumah beliau untuk membantu mengoreksi, belanja ke pasar dengan bawa sepeda, memanjat pohon jambu klutuk dan belimbing, membuat es mambo dan pernah menunggui beliau saat sakit. Beliau selalu berpesan agar saya memperbanyak sholat tahajud.
Saat kuliah, saya terkesan dengan cara Pak Imono mengajar dan menguji, maka saya dididik oleh P Imono untuk mengajar, menguji, dan meneliti. Dedikasi yang tinggi serta kemauan untuk terus belajar berasal dari beliau.Beliau seoarng peneliti handal, dosen yang berhasil, namun tak pernah ambisius mengejar jabatan apalagi gelar Profesor (padahal beliau sudah pantas utk menyandang gelar tsb).Beliau juga sangat rendah hati walau orang besar dan terkenal.
 
5. Ceritakan hal yang paling inspiratif dalam hidup anda!
Saya hidup dan besar di lingkungan kampong miskin, sebelah kampong saya malah kampong preman dan WTS yang anak-anaknya hanya lulus SD Inpres. Di kampong saya sendiri, banyak yang hanya lulus SMP dan SMA, bahkan beberapa suka mabuk, judi, kumpul kebo. Di sekitar rumah saya, hidup tetangga yang hamper semuanya bakul sate murahan (sate dari daging sapi murah diwarnai kuning, dijual di pasar dan sekolah dengan harga murah). Setiap hari anak-anak tetangga yang sebagian teman saya dan adik kelas saya sibuk membantu bikin tusuk sate, masak daging, menusukkan sate, sampai tidak pernah belajar. Setiap sore saya ajak mereka belajar di rumah nenek saya baru malamnya mereka membantu orang tuanya dengan sate-satenya. Karena dulu nenek buyut saya orang yang disegani karena suka mengobati para tetangga dengan gratis (mereka menyebut nenek buyut saya sebagai dokter Jawa karena mengobati dengan obat tradisional), maka para orang tua tidak berani memarahi saya kalau saya dating ke rumah-rumahnya mengajak anak-anaknya belajar. Saya selalu bilang ke teman-teman saya "Biarpun miskin bukan berarti kita menyerah, kita masih bias belajar tekun asal ada kemauan. Kita tidak boleh menjadi seperti orang-orang tua kita yang hidupnya sulit".
Jadi di sekolah SMP dan SMA saya dilingkupi teman-teman dari keluarga kaya dan terdidik, di rumah dikelilingi teman-teman yang nasibnya sama dengan saya, miskin berasal dari orang tua yang hanya lulus SMP dan SMA. Dua hal yang kontras yang malah membuat saya harus berbuat banyak untuk anak-anak yang tidak beruntung secara ekonomi, untuk tetap mengejar cita-cita menjadi orang yang berguna. Saya sempat membuka les bidang studi gratis setiap sore saat saya SMA dan kuliah untuk anak-anak SD dan SMP tetangga. Di rumah nenek yang sederhana saya bikin kelas kecil seadanya. Saya merasa bangga dan bahagia sebagai guru kecil.
 
6. Apa cita-cita anda sekarang?
Tetap menjadi guru apa saja yang memberikan manfaat bagi bangsa dan orang-orang yang secara ekonomi sulit namun punya tekad sekolah tinggi. Juga ke desa-desa bergerak menyadarkan masalah kesehatan dan pemakaian obat di kalangan wanita tani, karang taruna, dan sekolah-sekolah di desa terpencil.
 
7. Cerita-cerita yang lain yang berkesan selama sekolah-bekerja.
Saya lekat dengan kehidupan desa sejak kecil walau saya tinggal di kampong pinggir kota yang sumpek. Saat libur sekolah saya selalu main ke sawah dan desa di sebelah batas kota. Setelah SMA saya ke rumah teman sahabat saya di desa, kadang sampai menginap, menjalani kehidupan desa selama liburan. Juga saat kuliah, acara libur selain saya isi dengan kegiatan ekstra kurikuler juga berkunjung ke rumah teman-teman di desa lain kota. Saya berkhayal punya rumah di desa, berkebun, menjalani hidup narimo bersama orang-orang desa.
Keinginan itu dikabulkan oleh Alloh, saat suami saya mendapat rumah dinas di desa. Saya sangat menikmatinya, suara gemericik air, berkebun di depan dan belakang rumah, ke sawah dan sungai dengan ke3 anak saya, bermain lumpur, mencari ikan dan kepiting sungai, memelihara ulat bulu dan kecebong denagn anak-anak saya. Tampaknya anak-anak saya pun menikmati desa layaknya masa kecil saya.
Selama bekerja, saya sering ke kampus naik angkot bercakap-cakap dengan para ibu penjual sayur dan orang-orang desa yang hidupnya sederhana. Saya selalu mensyukuri perjalanan hidup saya yang dilingkupi oleh indahnya dunia yang sederhana ini. Yang akhirnya membuat saya merasa "narimo" dan menjalani hidup ini dengan enak dengan apa yang keluarga saya punya tidak perlu memandang hidup yang mewah.