Gerakan 1000guru adalah sebuah lembaga swadaya masyarakat yang bersifat non-profit, non-partisan, independen, dan terbuka. Spirit dari lembaga ini adalah “gerakan” atau “tindakan” bahwa semua orang bisa menjadi guru dan berkontribusi untuk meningkatkan level pendidikan di Indonesia. Gerakan 1000guru ingin menjawab salah satu permasalahan mendasar dari pendidikan dasar-menengah di Indonesia yaitu "kekurangan guru", baik dari sisi kuantitias, kualitas, maupun penyebaran, dengan memanfaatkan kelimpahan sumber daya manusia yang tersebar di bidang-bidang non-pendidikan dasar-menengah dan yang tersebar di seluruh penjuru planet.
Gerakan 1000guru juga ingin menyambung kembali tali ikatan kultural antara dunia pendidikan dan masyarakat, seperti di masa lalu ketika pendidikan masih berlangsung di lingkup keluarga. Pendidikan adalah satu-satunya aset yang tidak dimiliki oleh makhluk selain manusia, yang sudah terbukti dan akan terus menjadi motor yang memperpanjang nyawa peradaban manusia. Oleh karena itu, pendidikan adalah tanggung jawab seluruh elemen masyarakat.
Ikhfan Haris
Nama
:
Ikhfan Haris
Tempat/Tgl. lahir
:
Pare-Pare, November 1967
Riwayat Sekolah
:
SDN Inpres 44 Pare-Pare
SMPN 1 Pare-Pare
SMAN 1 Pare-Pare S1 Universitas Hasanuddin Ujung Pandang S2 Technische Universitaet Dresden, Jerman
Pekerjaan
:
Dosen Universitas Negeri Gorontalo
System Support Advisor at Nusa Tenggara Timur Primary Education Partnership (NTTPEP) / Kemitraan Pendidikan Dasar Australia-Indonesia, an AusAID initiative (2004-2007)
Hobi
:
baca, jalan-jalan, makan yang enak-enak
Status Keluarga
:
Menikah
email
:
ifanharis at web dot de
1. Apa cita-cita anda waktu kecil?
Jadi Insinyur Teknik
2. Ceritakan hal yang paling mengesankan sewaktu sekolah dari TK-SMA?
SD: yang mengensankan bahwa walaupun sekolah saya adalah sekolah yang baru, dan letaknya di puncak gunung namun semangat murid dan gurunya sangat tinggi. Sekolah saya juga meskipun baru dibanding sekolah lain tapi beberapa kali memenangkan lomba-lomba tingkat SD (cerdas cermat, olah raga dan seni). Selain itu selama 3 tahun di SD saya 2 kali seminggu di sekolah saya semua murid minum susu (nggak tahun bantuan dari mana susunya, mungkin saat itu di Indonesia masih dianggap kurang gizi, jadi diberi minum susu).
3. Ceritakan hal yang paling menantang sewaktu sekolah dari TK-SMA!
Waktu mengikuti seleksi masuk SMP dan SMA. Karena SMPN 1 dan SMAN 1 letaknya pas ditengah kota Pare-Pare (kedua sekolah ini berdekatan alias tetangga, bersebrangan satu dengan yang lainnya) maka hampir semua siswa SD yang ingin masuk ke SMP ataupun siswa SMP yang ingin masuk ke SMA pasti akan memilih kedua sekolah favorit tersebut, sehingga tingkat persaingan untuk masuk ke sekolah ini sangat tinggi. Apalagi siswa dari luar Kota Pare-Pare juga ikut bersaing untuk bersekolah disana. Artinya sudah menjadi harga mati untuk berusaha sekuat tenaga agar bisa bersekolah "di sekolah favorit tengah kota", kalau tidak harus bersekolah jauh, makanya ini merupakan tantangan paling berat, lebih berat dari ujian akhir SD dan SMP. Kalau telah lulus ujian SD tantangan berikutnya adalah ujian masuk SMP, begitu pula ujian untuk masuk SMA.
4. Siapa guru yang paling mengesankan bagi anda, dan mengapa?
Ibu Sabang Nur, nama guru, yang selalu menjadi panutan saya. Kebetulan waktu SD sekolah kami adalah SD Inpres. Pada saat itu sekolah kami adalah sekolah yang baru saja dibuka. Saya adalah murid angkatan pertama di sekolah itu, sampai sekarang saya masih hafal No. STB saya yaitu 3, karena sekolah kami baru maka no STBnya juga mulai dari angka kecil. Sampai saya kelas 4, guru di sekolah saya hanya 2 orang plus Kepala Sekolah, padahal jumlah rombongan belajar (rombel/kelas) saat itu sudah 5 rombel, karena kelas 1 sudah ada kelas pararel. Kekaguman saya pada ibu guru saya adalah beliau bisa mengajarkan semua mata pelajaran yang ada pada saat itu, kemudian dia bisa mengorganisir dan mengatur waktu, sehingga hampir semua kelas bisa mendapatkan pengajaran, tanpa ada yang terlewatkan.
Kekaguman saya ini menjadi bertambah atas sosok guru saya, ketika saya bekerja di Program Kemitraan Pendidikan Dasar di Maumere, Flores, NTT, dimana salah satu programnya adalah Pembelajaran Kelas Rangkap (PKR), artinya bagaimana guru dapat mengajar pada kelas berbeda dan mengorganisir pengajaran secara bersamaan di beberapa kelas. Program pembelajaran kelas rangkap adalah solusi untuk mengatasi kelangkaan Sumber Daya Guru (SDG) di sekolah. Ternyata program PKR atau Multigrade Teaching yang ada di NTTPEP telah dan sudah lama dilaksanakan jauh dan jauh sebelumnya oleh guru saya ketika saya SD. Saya baru sadar bahwa apa yang dilakukan Ibu Sabang Nur, ketika saya SD dulu kembali diterapkan di beberapa sekolah, khususnya di daerah terpencil yang jumlah gurunya tidak mencukupi.
5. Ceritakan hal yang paling inspiratif dalam hidup anda!
Ketika saya melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di sebuah desa yangsangat terpencil. Desa itu hanya dapat dijangkau dengan pertama naik mobil ke ujung sungai, kedua dari ujung sungai naik perahu atau rakit ke seberang sungai, setelah menyebrangi sungai harus naik Bendi/Dokar kurang lebih 45 menit atau 1 jam kemudian dilanjutkan dengan berjalan kaki sampai ke kampong atau desanya.
Hal yang paling inspiratif adalah ketika saya melihat dua orang anak SD yang bersekolah di desa tempat saya KKN berenang dari ujung sungai menuju ke seberang. Yang membuat saya kagum adalah kedua murid SD itu hanya menggunakan satu tangan mengayuh dipermukaan sungai (saya tidak tahu gaya renang apa yang mereka gunakan) sementara tangan yang satunya diangkat lurus ke atas dan tangan ini memegang buku-buku , baju seragam dan celana pendek seragam putih merah hati mereka (mereka melakukan itu karena takut buku dan pakaian seragam basah dan mereka akan memakai seragam itu setelah sampai ke desa KKN saya). Kedua anak itu tinggal di seberang sungai, mereka tiap hari harus berenang ke desa saya untuk bersekolah. Saya bertemu kedua anak itu waktu itu di tepi sungai di desa KKN saya, karena kebetulan saya waktu itu akan ke kota kabupaten untuk keperluan kegiatan KKN di Kantor Pemda Kabupaten. Ketika melihat kedua nak itu berenang, saya terenyuh di tempat saya dan menunggu sampai kedua anak itu sampai keseberang, ke tempat saya berdiri. Ketika saya tanyakan mengapa berenang dan tidak menggunakan perahu. Jawabnya kami tidak punya cukup uang tiap hari untuk menggunakan perahu ke sekolah. Menurut saya inilah hal paling insiparatif buat saya, Dua orang anak setiap hari berenang dengan satu tangan dari ujung sungai ke seberang untuk menuntut ilmu. Sebuah perjuangan tanpa lelah demi ilmu dan masa depan.
6. Apa cita-cita anda sekarang?
Jadi Guru Besar
7. Cerita-cerita yang lain yang berkesan selama sekolah-bekerja.